HIers di dunia maya

May 7, 2009

Kebanyakan HIers di dunia maya tak ubahnya besi magnet yg ugal-ugalan di jalan. Senggol sana senggol sini dan menyedot perhatian orang lain untuk mengusik. Karena besi magnet, pisau, golok sampai cangkul juga bisa ikut nempel dan sulit untuk dilepas. Sekali di cap jelek mulai saat itu juga menjadi terdakwa. Namanya juga media informasi, media massa yg punya kuasa untuk menjustifikasi org lain tanpa persidangan. Yang baik jadi buruk yg salah jadi benar.

Kalau suka dgn perguruan HI, jalani dan dalamilah. Kalau hanya mengandalkan rasa, sebaiknya HIers mari banyak bertanya kepada senior yang mumpuni dari segi emosi dan pengetahuan. Kalau juga ikut mengandalkan intelijensia, anda akan tau kenapa dan bagaimana. Tapi kalau anda sebagai HIers terlalu banyak menghayal dan berharap serba instan, lebih baik koreksi diri dan diamlah.

HIers di dunia maya bukan hanya jadi tontonan, tapi juga penonton. Sayangnya, banyak yg lagi mentas diatas panggung bukanlah aktor yg bagus untuk di tonton.

 

** seperti biasa, kritik dan saran diterima. yg tak pandai bicara cuma bisa ungkapan kotor, maaf, tak layak-ku tayangkan di dunia maya**

“Berubahlah untuk maju”

November 26, 2008

Sebuah jingle iklan di tv tentang ajakan berubah untuk maju, menurut ku inspirasional dan berdampak positif. Paling tidak dengan mendendangkan jingle itu, liriknya secara sadar atau tidak sadar, mengajak dan menyadarkan orang bahwa perubahan itu tak datang dengan sendirinya.

Siapa pun punya cerita, saya juga begitu.

Sekitar pertengahan tahun 2006, saya merasa lingkungan bekerja saya kurang mendukung untuk kemajuan diri sendiri. Pegawai-pegawainya yang kurang berwawasan luas tapi seolah-olah serba tau segalanya, tingkat edukasi yang rendah, pola pikir yang terkekang dan sempit, kultur yang kaku, karir yang mandeg, gaji yang kurang (halah..ini mah pasti disebut kurang melulu), membuat saya berpikir bagaimana caranya saya keluar dari sana.

Persis seperti apa yg diungkapkan oleh The Secret, bahwa kekuatan pikiran itu membawa hasil yang tak kita sangka-sangka, akhirnya saya pun keluar dan mendapat pekerjaan baru yang lebih menantang, gaji yang lumayan meningkat, dan yang penting, wawasan bertambah luas dengan ‘dukungan’ lingkungan sekitarnya.

Tapi perubahan lingkungan itu tidak cukup merubah apa yang sudah ada didalam diri saya. Segala sesuatu yang saya dapatkan dari environment sebelumnya dan seperti sudah terpatri di dalam alam bawah sadar. Sehingga ditengah-tengah lingkungan yang bagus ini, saya seperti batu yg terbenam didasar yang keruh.  Dengan pembatasan diri itu mengakibatkan alam bawah sadar pun bereaksi mengakibatkan saya seolah olah menjadi terbatas.

Seperti ada sebuah hal yang seharusnya gampang menjadi susah bagi saya. Apa yang seharusnya berjalan lancar, menjadi kusut bagi saya. Padahal itu adalah proses untuk perubahan diri kita sendiri. Dan yang berperan penting disini adalah paradigma. Kalau paradigma saya kurang bagus, tentu saya sikapi dgn kurang bagus dan hasilnya tak berdampak positif buat saya sendiri. Tapi kalau saya sikapi dgn baik dan berpikir positif, tentu perubahan yg saya alami adalah kemajuan.

Nah…triger itu terjadi ketika saya bertemu seorang teman. Dia selalu didatangi orang dan setiap orang selalu bertanya kepadanya dan meminta solusi. Teman ini tidak pernah mengeluh. Tau atau tidak tau dia selalu berusaha mencari tau dan akhirnya dia menjadi tau. Segala sesuatu yang sulit dia jalani perlahan sehingga akhirnya dia mampu mengatasinya. Dia menyikapinya dengan sisi yang lain. Bila orang lain mengeluh, dia tidak sama sekali. Dia bilang “lumayan, buat belajar”

Makin banyak orang bertanya dan tergantung pada teman itu. Hampir2 orang malah tak ingin berpikir dan biar saja teman saya itu yang berpikir. Sehingga ketergantungan thdp teman saya itu sudah saya anggap ‘kritis’ karena kalau teman saya itu tidak ada, maka orang lain tidak akan bisa bekerja dgn baik atau tidak punya solusi. Sikap untuk ‘memiliki’ teman saya itu menjadi tinggi. Sehingga tercium oleh pihak management dan memberikan tawaran menarik untuknya.

Coba bayangkan kalau teman saya itu menyikapi dgn hal yg berlawanan. Tentu dia menjadi org yang biasa-biasa saja. Org yg tidak berpengaruh bagi org lain. Dan malah tak satu direksi pun yg akan mendengar namanya.

Teman saya itu menjalani proses dan berusaha untuk lebih baik lagi. Dia punya paradigma yang positif dalam menyikapi hal-hal yang kurang menyenangkan bagi orang lain. Dan teman saya ini lah yg menginspirasikan saya untuk berubah. Dan akhirnya alam bawah sadar saya pun terpatri untuk siap berubah menjadi yang lebih baik. Saya pun menjalani pekerjaan tanpa mengeluh. Menerima setiap persoalan dan menyelesaikannya dgn harapan mendapatkan ilmu yg lebih lagi. Setiap ada problem saya selalu berusaha untuk aktif. Tidak tau saya berusaha cari tau. Biasa nya lupa saya selalu mencatatnya. Saya berani memutuskan sesuatu meskipun hasilnya bisa salah atau benar. Saya berani memberikan advise ke user-user dengan yakin. Niat untuk belajar saya menjadi lebih besar.

Tak lama sekitar satu bulan, saya mulai meraih hasilnya. Saya sudah merasa beberapa pihak mulai intens bertanya dan percaya kepada saya. Saya menjadi bagian yang penting bagi mereka. Dan syukurnya adalah: saya berhasil menerapkan langkah awal ini untuk perubahan yang positif bagi diri saya sendiri.

Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan. Maka dari itu, berubahlah untuk maju.

Beberapa hari lalu disiarkan di tivi kita tentang tragedi di Pasuruan. Ada seorang yang ingin membagi-bagikan zakatnya kepada masyarakat miskin dan terjadilah bencana, korban berjatuhan – 21 orang tewas. Dilayar tivi, terlihat massa hampir seluruhnya perempuan.

Ada yang berpikir bahwa itu potret kemiskinan negara kita, ada lagi yang bilang kalau ironis sekali kenapa polisi datang terlambat. Ada yang lebih kejam lagi menyalahkan si pembagi zakat tidak melapor ke polisi.

Menurutku itu bukan potret kemiskinan negara kita. Orang miskin di setiap negara pasti ada. Polisi tidak bersalah untuk datang terlambat karena siapa tau laporan memang telat ke kantor polisi setempat. Pembayar zakat tidak perlu melapor ke polisi untuk beramal.

Mungkin hanya perlu sedikit pengaturan. Misalnya ada garis antrian, atau kupon dgn pembagian dlm waktu-waktu tertentu. Membagi zakat disana kelihatannya bukan seperti membagi stik drum atau pick gitar seperti konser Metallica.

Memang bangsa kita ini-lah yang mesti berubah sikapnya. Takut tidak kebagian uang, padahal kalau memang sudah ditentukan pasti akan dapat juga. Mereka juga tidak miskin-miskin amat karena mereka masih punya baju yg layak untuk dikenakan.

Jangankan ngantri pembagian zakat yang berantakan, suatu kali di tahun 1997 pernah saya ngantri di BDN (waktu itu bank ini belum di merger). Tiba-tiba ada dua orang ibu-ibu berseragam pemda setempat menyerobot dan langsung berdiri di depan loket. Dia menyingkirkan orang2 yang sudah lama ngantri disana. Nah..!!! Jangankan orang yang mengklaim dirinya miskin yg gak mau ngantri, pegawai Pemda pun seperti itu.

Jadi bukan potret kemiskinan yang diangkat, tapi sifat dan sikap bangsa kita ini yang udah ngawur!

RADIX guitar review

July 31, 2008

JAPEX 2008 ini, seperti biasa, aku ikutan hadir. Rasanya pameran tahun ini kurang menarik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya aku tak satupun jepretin kamera. Apa yg mo di-foto? Hari sabtu itu alat-alat musik minim sekali utk di explor.

Tibalah di counter RADIX. Awalnya aku cuekin, tapi setelah muter beberapa kali, ngeliat counter ini sepi akhirnya aku tertarik juga. Setelah ngeliat sebentar, kok ada poster Eet? Jangan-jangan…

“Ini tadinya Marlique ya mas?”, “..iya..”, “emang kenapa? pecah?”, “ya begitulah..”, “boleh coba?” …”o boleh ..boleh”

Akhirnya aku nyoba yg signature-nya Farri ‘The Sigit’ dan nyolokin ke ampli Crate FW120H.

Mmmm….dari JAPEX pertama dan tahun-tahun selanjutnya, gitar ini (yg tadinya Marlique jadi Radix) yg dibikin Toein B memang bikin naksir. Buatan lokal tapi kualitas nya bagus. Harganya bersaing…dan soundnya keren. Tampilannya juga menarik. Terus terang, sejak JAPEX pertama juga aku pengen punya gitar buatan bung Toein ini. Tapi karena aku bukan pemain gitar profesional dan sekedar hobi, jadi aku tangguhkan saja. Nanti deh..kalau udah kebanyakan duit….Lah..ini gitar harganya bersaing lho…? nggak..maksudnya, nanti-nanti ajalah..belum perlu.

Akhirnya aku jajal gitar ini dari kepala ke buntut. Hebatnya, aku nyoba di ampli Crate dan kualitas suaranya juga bagus sekali. Mulai dari suara bening bak kristal, sampai suara heavy metal yg mendem. Gitar ini punya ruang yg ‘luas’ untuk di eksplorasi. Mulai dari single p.u, double, rear atau front…semuanya enak. Mo volume yg kecil atau full volume dan tone, semua oke punya…enak dimainkan. Hasilnya aku puas dgn gitar ini, setelah sekitar satu jam jajal dan diperhatikan beberapa pengunjung yg melintas.

Kalau punya ruangan dan ampli, mungkin aku bakal beli gitar ini satu. Kalau bisa aku pengen Bung Toein bikin kustom utk ku sendiri.

Cakep..!!

Last night I saw The Beast and The Beauty. Starred by Ryu Seung Beom and Shin Min-a. This is another good of Korean comedy-romantic movie. It’s entertaining me. I know Ryu acts also in Sunlight Pours Down. And…Shin Min-a is very cute on this movie.

You better watch this movie. It’s produced in 2005.

This is very cute comedy . I even laugh all the time for about 3/4 of this movie. This movie is not trying to blow ‘the love’ perspective to audience. The plot is built bit by bit and completely fresh. You will not hear anyone of them to declaire ’saranghe’ to each other. That’s the way the korean movie has captured me for this long addiction.

Please browse the internet to get the complete sinopsys. I dont have the good idea to tell you for this moment.

The teenager love triangle movie. When I red the sinopsys i thought i didnt want to buy it. But afterward, the photo cover is a tempting to.

I think the plot is a common thing that enjoyable. Teenegers love stories never bored to me to watch on the movies. Except for Indonesian one…(it’s annoying!). I like Cha Ye-Ryeon coz she is the main actress and performing good act on it. …well anyhow…you can read the complete sinopsys or critics for this movie on the internet.

For me, Korean drama is nice to watch…

My Sassy Girl review

July 28, 2008

I just saw this movie last nite. It’s been a long time for me to find this movie. I’ve already know about this title but i’d never try at once to watch it. Until I saw Cha Tae Hyun acts with Song Hye Kyo in My Girl and I, and some references inform that He also acts in My Sassy Girl- and Jeon Ji-Hyun is starring also in this movie!!

This movie is awsome! The story is wonderful and the plot is good. I think this is why this movie hit the box office years ago.

Korean movies have better way to perform ‘the love’ in many different perspectives. Amazing… I dont have much words to tell you more. I just like this movie and i never let it off of me.

(this is a kinda belated review…)

Still, I want to inform the Indonesian programmers about the ‘dinasour’ computer language -COBOL. Please dont under estimate or look down to COBOL. Most of the financial institution like banking industry, insurance, and credit payment business are using COBOL on their core system.  If they’re using midrange - IBM iSeries, then RPG or COBOL will perform. If they’re using IBM mainframe, so then -of course they have to develop using COBOL. At least, that’s the current info that I got ’till now.

Once, I hate COBOL. But now I thank to. Even the Indonesian programmers spot me as ‘dinosour’ developer…and I don’t care…

Buka matamu pada COBOL

July 21, 2008

Saya sering mendengar teman2 IT yang berseliweran bertanya bahasa pemrograman apa yg sedang saya geluti sekarang. Hampir dari semua mereka sepakat bahwa itu adalah bahasa pemrograman lama yang sudah ditinggalkan, itu adalah bahasa yang sudah tua, atau “emang masih dipakai ya?”, “wah..itu terakhir tau waktu dulu belajar di kuliahan”, dan bahkan ada yang tertawa geli dan berolok-olok, “Programmer COBOL rata-rata namanya sudah jadi nama jalan sekarang” – kebangetan gak tuh?!.

Terus terang saya pun dulu sangat membenci bahasa ini waktu jaman kuliah dulu. Bahkan saya pernah melontarkan kalimat “Untuk apa belajar sesuatu yang udah lama dan gak jelas gini?!” Waktu itu materi kuliah yang diajarkan untuk bahasa COBOL ini kurang diminati dan pengajar pun seperti hanya sekedar menunaikan tugas. Ketika praktikum bahasa COBOL pun hampir semua teman2 ‘hanya’ sekedar memenuhi kewajiban mereka dan mengejar nilai praktikum. Sepulangnya ke kost-an mereka lebih suka mengulik Pascal dan Visual Basic dan tak satupun dari mereka berbicara mengenai COBOL.

Saya menjauhkan diri dari COBOL karena ‘kecerewetan’ syntax-syntax yang mesti ditulis dan saya kesulitan untuk menghafal. Saya lebih senang memilih Pascal karena keringkasannya dan Visual Basic karena kemudahannya dgn klik mouse button.

Hingga suatu kali saya mesti memilih kursus AS/400. Pada saat itu saya terpaksa memilih kursus ini karena kursus yang lain sangat diminati dan ramai sehingga penuh tak dapat ‘tiket’ lagi. Saya sedang dikejar waktu untuk kewajiban memenuhi kursus minimal satu bidang untuk lulus secepatnya dari kampus. Saya pikir, memang AS/400 sangat jarang peminatnya dan bisa jadi sangat dibutuhkan karena sulit dicari orang yg bisa dibidang ini.

Sesuatu hal yang jarang dan sulit dicari, tentu saja punya harga yang mahal. Teori supply and demand.

Sayangnya setelah lulus kuliah saya justru menganggur dan selalu dapat negosiasi yg menyedihkan. Posisi tawar saya justru rendah karena banyak orang yg ahli dan bisa dibidang windows dan semacamnya. Hingga suatu kali tawaran menjadi Analyst Programmer utk AS/400 pun datang.

Saat pertama bekerja, saya memang digaji rendah karena memang belum ada pengalaman. Itu saya syukuri karena kesempatan baik untuk belajar AS/400 (bidang yg saya anggap jarang dan sulit dicari). Dan pada akhirnya, saat itu juga bertemu dengan COBOL! Mau gak mau, karena system applikasi ditempat kerja saya ada yang dibangun dgn bahasa COBOL, saya akhirnya belajar juga bahasa COBOL. Tidak lancar, tapi bisa.

Hingga bertahun-tahun kemudian, saya sekarang justru 100% menggunakan bahasa COBOL. Taraf gaji pun sudah jauh melebihi angan-angan saya ditahun pertama dulu. Siapa yang sangka kalau saya pun bisa travel keluar negeri hanya karena saya bisa melakukan pemrograman COBOL dimesin AS/400. Saya pun tak menyangka perusahaan finansial/asuransi asing yang punya cabang di Jakarta pun sangat bersusah payah mencari programmer COBOL dan berusaha untuk menarik saya. Bank-bank besar pun kadang membuka tawaran melalui third party untuk menjadi programmer mereka. Itu semua hanya karena mereka mencari programmer COBOL yang sudah langka*.

Untuk itu, siapa saja yang membaca ini, dan meremehkan COBOL (atau pernah sekali saja), bukalah matamu lebar-lebar tentang kesempatan ini. Bagi yang masih belajar di bangku kuliah, ‘berkorban’ untuk belajar sesuatu yang langka seperti berinvestasi yg bagus dikemudian hari. Nasib baik bila anda ditawari bekerja di mesin IBM Mainframe atau IBM AS/400.

..
*) COBOL adalah bahasa pemrograman untuk core system di dunia perbankan, finansial atau bahkan asuransi. Disamping itu juga ada bahasa RPG. Hampir semua dari institusi itu menggunakan mesin iSeries atau zSeries. Bahasa pemrograman lain (selain COBOL atau RPG) hanya dipakai untuk applikasi tambahan dan bersifat satelit atau pendukung.